Back
Biography · 5d ago

Kembalinya Muhammad ke Mekkah: Sejarah Agung

0:00 13:12
muhammad-bin-abdullahmeccamedinaqurayshislamickaaba

Other episodes by Alien.

If you liked this, try these.

The full episode, in writing.

Senin di tahun 630 Masehi, ribuan orang bergerak menuju Mekkah. Setelah bertahun-tahun diasingkan, menghadapi ancaman, dan dicegah untuk memasuki kota kelahirannya, Muhammad bin Abdullah memimpin lebih dari 10.000 pengikutnya memasuki Mekkah. Tidak ada pertempuran besar. Tidak ada pembalasan berdarah. Begitu memasuki kota, Muhammad langsung menuju Ka'bah, menghancurkan berhala-berhala yang mengelilinginya, dan mengembalikan tempat itu menjadi pusat ibadah satu Tuhan. Kota yang pernah mengusirnya kini tunduk tanpa perlawanan, dan penaklukan Mekkah mengubah sejarah dunia Islam selamanya. Perjalanan ini dimulai jauh lebih awal, pada tahun 570 Masehi di sebuah kota niaga yang ramai—Mekkah—di tengah apa yang disebut Tahun Gajah.
Muhammad lahir pada 12 Rabiul Awal, Tahun Gajah, sekitar 570 Masehi. Nama Tahun Gajah diambil dari peristiwa ketika pasukan bergajah Raja Abrahah menyerang Ka'bah, namun gagal menaklukkannya. Peristiwa ini terjadi di tahun yang sama dengan kelahiran Muhammad, dan menjadi penanda penting dalam sejarah Mekkah. Keluarga Muhammad berasal dari Bani Hasyim, salah satu klan terkemuka dalam suku Quraisy. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib. Namun, Muhammad belum pernah melihat ayahnya. Abdullah meninggal dunia saat Muhammad masih dalam kandungan ibunya, Aminah binti Wahb. Saat Muhammad berusia enam tahun, ibunya pun wafat, menjadikannya yatim piatu pada usia yang sangat belia. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Namun, dua tahun kemudian, Abdul Muthalib juga meninggal dunia, dan pengasuhan Muhammad berpindah ke pamannya, Abu Thalib.
Kondisi sosial Mekkah pada masa itu sangat keras, dengan tatanan masyarakat yang berpihak pada kekuatan suku, perdagangan, dan kepemilikan budak. Namun, keluarga Muhammad dikenal sebagai penjaga Ka'bah dan memiliki posisi terhormat meski tidak kaya raya. Abdul Muthalib, kakek Muhammad, adalah pemimpin Bani Hasyim yang sangat dihormati di kalangan Quraisy karena kebijaksanaan dan kepemimpinannya dalam mengelola sumber air di Mekkah.
Nama “Muhammad” diberikan oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Nama ini belum pernah digunakan sebelumnya dalam keluarga mereka, dan artinya adalah “yang terpuji.” Pemberian nama ini mengandung harapan besar dari sang kakek agar cucunya kelak menjadi sosok yang dipuji banyak orang. Ada tradisi di Arab yang biasa menggunakan nama-nama leluhur atau tokoh-tokoh setempat, namun Abdul Muthalib memilih nama yang berbeda, menandakan harapan luar biasa terhadap masa depan Muhammad.
Pada usia sekitar empat atau lima tahun, Muhammad mengalami peristiwa yang tidak biasa, dikenal sebagai “pembelahan dada.” Menurut riwayat, Malaikat Jibril datang dan membelah dada Muhammad, mengambil segumpal darah dari hatinya untuk membersihkan sifat buruk, kemudian menutupnya kembali. Peristiwa ini diyakini sebagai persiapan spiritual Muhammad untuk tugas besar di masa depan. Ibu susu Muhammad, Halimah Sa’diyah, yang merawatnya selama balita, konon sangat terkejut dan khawatir setelah kejadian itu, sehingga memutuskan untuk mengembalikan Muhammad kepada keluarganya di Mekkah.
Masa kecil Muhammad diwarnai hidup sederhana. Ia tumbuh sebagai anak yatim yang tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tua secara penuh. Namun, asuhan Abu Thalib, pamannya, memberikan perlindungan meski keluarga itu tidak kaya. Muhammad tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkannya kemandirian dan kejujuran sejak kecil. Abu Thalib, selain menjadi pelindung, juga seorang pedagang yang sering membawa Muhammad dalam perjalanan dagang ke luar kota.
Pada usia 12 tahun, Muhammad ikut pamannya melakukan perjalanan dagang ke negeri Syam, wilayah yang kini meliputi Suriah, Palestina, dan Yordania. Dalam perjalanan ini, Muhammad bertemu dengan seorang pendeta Nasrani bernama Bahira di kota Bushra. Menurut riwayat, Bahira melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad yang saat itu masih remaja. Bahira memperingatkan Abu Thalib untuk melindungi Muhammad dari ancaman orang-orang yang mungkin menyadari tanda-tanda itu. Perjalanan ke Syam ini menjadi pengalaman pertama Muhammad berinteraksi dengan dunia luar dan sistem perdagangan antarnegara, memperluas wawasannya.
Kejujuran Muhammad dalam berdagang membuatnya mendapat julukan “Al-Amin,” yang artinya “yang terpercaya.” Julukan ini diberikan oleh masyarakat Mekkah karena Muhammad selalu jujur, adil, dan tidak pernah menipu dalam jual beli. Integritasnya diuji dalam berbagai peristiwa, termasuk saat dipercaya membawa barang dagangan milik para saudagar Mekkah dan mengelola keuangan mereka. Dalam catatan sejarah, tidak ada satu pun kasus penipuan atau perselisihan yang melibatkan Muhammad selama ia berdagang.
Salah satu peristiwa penting sebelum kenabian adalah pernikahan Muhammad dengan Khadijah binti Khuwailid. Pada usia 25 tahun, Muhammad menerima tawaran bekerja dari Khadijah, seorang saudagar kaya yang berumur 40 tahun. Setelah melihat kejujuran dan keberhasilan Muhammad mengelola perniagaannya ke Syam, Khadijah mengajukan lamaran untuk menikahinya. Pernikahan ini menjadi titik balik dalam kehidupan Muhammad. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai beberapa anak, termasuk Fatimah az-Zahra yang kelak menjadi ibu dari keturunan Muhammad yang meneruskan nasabnya.
Khadijah bukan hanya istri, tetapi juga sosok pelindung dan penyokong utama dakwah Muhammad pada masa-masa sulit. Khadijah memberikan seluruh hartanya untuk perjuangan agama yang dibawa Muhammad. Pernikahan mereka bertahan selama 25 tahun hingga Khadijah wafat, dan selama itu Muhammad tidak pernah menikahi wanita lain.
Pada usia 40 tahun, Muhammad sering berkhalwat atau menyepi di Gua Hira, di luar Mekkah. Di tempat ini, ia merenung tentang kondisi sosial, kemiskinan, ketidakadilan, dan penyembahan berhala yang marak di Mekkah. Pada suatu malam di Bulan Ramadan, Muhammad menerima wahyu pertama melalui Malaikat Jibril. Jibril memerintahkan Muhammad untuk “Iqra’,” yang berarti “bacalah.” Wahyu ini menandai awal kenabian Muhammad sebagai Rasul terakhir, pembawa risalah Islam untuk seluruh umat manusia.
Masa awal kenabian diwarnai perjuangan berat. Muhammad memulai dakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun, mengajak keluarga dekat dan sahabat terdekat untuk memeluk Islam. Di antara yang pertama menerima ajaran Muhammad adalah Khadijah, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah itu, dakwah dilakukan secara terbuka, menantang tatanan kepercayaan masyarakat Quraisy yang memuja banyak dewa dan mengelola perdagangan di sekitar Ka'bah.
Penolakan dan persekusi dari kaum Quraisy menjadi semakin keras. Banyak pengikut Muhammad disiksa, bahkan beberapa seperti Bilal bin Rabah dianiaya secara brutal. Muhammad sendiri mendapatkan tekanan sosial dan boikot ekonomi, terutama dari klan Quraisy lain yang merasa ajarannya mengancam status quo perdagangan di Mekkah. Dalam masa-masa ini, Muhammad kehilangan dua pendukung terbesarnya—Khadijah dan pamannya, Abu Thalib—dalam tahun yang sama, peristiwa yang dikenang sebagai “Tahun Kesedihan.”
Setelah tekanan di Mekkah semakin berat, Muhammad memutuskan untuk hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Keputusan ini diambil setelah menerima undangan dan janji perlindungan dari penduduk Madinah—saat itu dikenal sebagai Yatsrib. Peristiwa hijrah menjadi titik balik besar dalam sejarah Islam. Kalender Hijriah pun didasarkan pada peristiwa ini. Dalam perjalanan menuju Madinah, Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar, sempat bersembunyi di Gua Tsur untuk menghindari kejaran kaum Quraisy.
Setibanya di Madinah, Muhammad membangun masyarakat baru yang berlandaskan persaudaraan, keadilan, dan toleransi agama. Ia mempersaudarakan kaum Muhajirin—kaum Muslimin yang hijrah dari Mekkah—dengan kaum Ansar, penduduk asli Madinah. Muhammad juga menyusun Piagam Madinah, dokumen tertulis yang mengatur hubungan antara Muslim, Yahudi, dan komunitas lain di kota itu. Piagam ini menjadi salah satu konstitusi tertua di dunia dalam mengatur masyarakat multikultural.
Pertempuran demi pertempuran terjadi dengan kaum Quraisy Mekkah, antara lain Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Namun, salah satu momen diplomasi terbesar adalah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 628 M, ketika Muhammad dan kaum Muslimin menandatangani perjanjian damai dengan Quraisy. Perjanjian ini mengizinkan umat Islam melakukan ibadah haji pada tahun berikutnya dan membuka jalan bagi penyebaran Islam secara damai ke wilayah luar Mekkah.
Puncak karier Muhammad sebagai pemimpin dan nabi terjadi pada peristiwa penaklukan Mekkah tahun 630 M. Dalam ekspedisi ini, Muhammad memimpin lebih dari 10.000 pasukan dari Madinah menuju Mekkah. Walaupun kekuatan militer sangat timpang, Muhammad memilih jalan damai. Saat memasuki Mekkah, ia memberikan pengampunan massal kepada penduduk kota, termasuk mereka yang dulu menjadi musuhnya. Setelah membersihkan Ka'bah dari berhala-berhala, Muhammad mengembalikan rumah ibadah itu pada ajaran tauhid sesuai tradisi Nabi Ibrahim.
Setelah penaklukan Mekkah, pengaruh Muhammad semakin meluas. Banyak suku dan kerajaan Arab mulai mengirimkan delegasi untuk masuk Islam dan mengakui kepemimpinannya. Pada tahun 632 M, Muhammad melaksanakan haji perpisahan atau Haji Wada’. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan Khutbah Wada’ yang berisi pesan-pesan penting, seperti persamaan derajat manusia, larangan riba, perlakuan baik terhadap perempuan, dan pentingnya persatuan umat.
Di tengah keberhasilan besar yang diraih, Muhammad tidak lepas dari berbagai ujian dan kegagalan dalam hidupnya. Salah satu masa paling sulit adalah saat kehilangan Khadijah dan Abu Thalib. Kehilangan dua orang yang selama ini menjadi pelindung sekaligus tempat bersandar dalam perjuangan dakwah membuat Muhammad mengalami duka mendalam. Tahun ini dikenang sebagai “Tahun Kesedihan.” Dalam kondisi tersebut, tekanan dari kaum Quraisy makin hebat. Upaya Muhammad berdakwah ke Thaif juga berakhir dengan penolakan dan kekerasan, hingga beliau harus berlindung dari lemparan batu oleh penduduk kota itu.
Muhammad juga mengalami kegagalan dalam beberapa perang, antara lain Perang Uhud, di mana pasukan Muslim kalah akibat sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisinya demi mengambil harta rampasan perang. Dalam peristiwa itu, Muhammad sendiri terluka dan beberapa sahabat terdekatnya gugur. Namun, dari kegagalan ini, ia mengambil pelajaran kepemimpinan dan semakin memperkuat kedisiplinan pasukannya dalam peperangan berikutnya.
Dalam kehidupan pribadinya, Muhammad dikenal memiliki hubungan dengan beberapa istri setelah wafatnya Khadijah, termasuk Aisyah binti Abu Bakar. Aisyah dikenal sebagai salah satu wanita yang paling berpengaruh dalam penyebaran hadis dan pengetahuan Islam. Ia menjadi sumber utama ribuan hadis yang diriwayatkan tentang kehidupan dan ajaran Muhammad. Aisyah juga memainkan peran penting dalam sejarah awal umat Islam, baik sebagai istri Nabi maupun sebagai figur intelektual yang dihormati generasi berikutnya.
Muhammad wafat pada hari Senin, 8 Juni 632 Masehi, di Madinah, dalam usia 63 tahun. Ia mengalami sakit selama beberapa hari sebelum wafat. Pemakamannya dilakukan di rumah tempat beliau wafat, yang kini menjadi bagian dari Masjid Nabawi di Madinah. Sepeninggalnya, kepemimpinan umat Islam berlanjut melalui para sahabat terdekatnya, dan ajarannya menyebar hingga ke luar Jazirah Arab.
Penaklukan Mekkah menjadi penanda awal penyebaran Islam secara masif ke seluruh Jazirah Arab dan wilayah sekitarnya. Setelah peristiwa ini, suku-suku Arab yang sebelumnya bermusuhan mulai berdatangan ke Mekkah untuk menyatakan keislaman mereka. Dampak politik, ekonomi, dan budaya dari peristiwa ini terasa hingga jauh di luar Mekkah. Quraisy, yang dulu menentang keras dakwah Muhammad, justru menjadi pendukung utama penyebaran Islam ke dunia luar.
Sebagai tokoh sentral dalam sejarah dunia, Muhammad diakui sebagai satu dari sedikit orang yang memengaruhi perkembangan agama, politik, hukum, dan etika. Dalam salah satu kutipan yang terkenal, Muhammad disebut sebagai tokoh nomor satu paling berpengaruh di dunia, melebihi tokoh-tokoh lain dalam sejarah peradaban. Kehidupannya menjadi teladan, baik dalam kepemimpinan, kejujuran, maupun keteguhan hati menghadapi ujian kehidupan.
Nama “Muhammad” kini menjadi salah satu nama paling umum di dunia. Jumlah orang yang menggunakan nama ini di berbagai negara mencapai puluhan juta. Setiap tahun, jutaan orang melakukan ziarah ke Mekkah untuk mengikuti jejak spiritual Muhammad dalam ibadah haji yang pertama kali distandarisasi olehnya pada tahun 632 M. Dalam Khutbah Wada’ yang disampaikan di padang Arafah, Muhammad menekankan persamaan semua manusia, tanpa membedakan suku, warna kulit, atau status sosial—prinsip yang pada zamannya sangat radikal dan menjadi revolusi sosial.
Piagam Madinah yang disusun Muhammad pada awal kedatangannya di Yatsrib diakui sebagai salah satu konstitusi tertua di dunia. Piagam ini menetapkan hak dan kewajiban warga kota, termasuk perlindungan hak minoritas Yahudi dan komunitas non-Muslim di Madinah. Piagam tersebut menjadi acuan bagi pembentukan negara berbasis hukum dan toleransi agama pada masa-masa berikutnya.
Aisyah, salah satu istri Muhammad, dikenal meriwayatkan lebih dari 2.000 hadis yang menjadi sumber utama ajaran Islam dalam bidang ibadah, etika, dan kehidupan sehari-hari. Aisyah juga dikenal sebagai ahli fikih dan menjadi rujukan utama bagi para sahabat dan tabiin dalam memahami ajaran Nabi.
Haji Wada’, ziarah terakhir Muhammad ke Mekkah, diikuti oleh sekitar 100.000 umat Islam dari berbagai penjuru Jazirah Arab. Pesan utama khutbahnya adalah tentang keadilan, larangan riba, hak perempuan, dan persamaan derajat manusia. Peristiwa ini menjadi fondasi nilai moral yang dipegang umat Islam di seluruh dunia hingga hari ini.
Setelah wafatnya Muhammad, pengaruh dan ajarannya terus menyebar tanpa henti. Dalam kurun waktu satu abad setelah wafatnya, Islam telah menyebar dari Spanyol di barat hingga India di timur, mencakup wilayah seluas lebih dari 10 juta kilometer persegi, lebih besar dari luas seluruh Eropa Barat. Penyebaran ajaran Muhammad mengubah struktur sosial, politik, dan ekonomi di tiga benua sekaligus.
Kematian Muhammad di Madinah menandai berakhirnya masa risalah secara langsung. Namun, jejaknya tetap hidup dalam setiap aspek kehidupan umat Islam, mulai dari hukum, bahasa, seni, hingga sistem pemerintahan. Jumlah penganut Islam saat ini diperkirakan mencapai lebih dari 1,8 miliar orang di seluruh dunia, menjadikan agama yang dibawa Muhammad sebagai salah satu yang terbesar dan paling berpengaruh secara global.

Hear the full story.
Listen in PodCats.

The full episode, all the chapters, your own library — and a feed of voices worth following.

Download on theApp Store
Hear the full episode Open in PodCats