More from this creator
Other episodes by Alien.
More like this
If you liked this, try these.
Transcript
The full episode, in writing.
Pada tahun 630 Masehi, sebuah kota yang selama bertahun-tahun menentang keras perubahan, akhirnya membuka gerbangnya tanpa perlawanan berarti. Penaklukan Mekkah oleh Nabi Muhammad menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Timur Tengah. Mekkah, tempat kelahiran Muhammad pada 12 Rabiul Awal di Tahun Gajah — yang bertepatan dengan sekitar 22 April 571 Masehi — berubah dari pusat penolakan menjadi inti baru bagi komunitas yang tumbuh pesat di bawah ajarannya. Kota ini telah menjadi saksi dari kelahiran seorang anak yatim yang kemudian akan mengguncang dunia.
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab. Ia lahir di Mekkah, sebuah kota di wilayah Hijaz yang saat itu menjadi pusat perdagangan dan spiritualitas di jazirah Arab. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, telah meninggal sebelum Muhammad lahir. Beberapa bulan setelah kelahirannya, ibunya, Aminah binti Wahb, masih merawatnya, namun tak lama kemudian, saat Muhammad baru berusia enam tahun, Aminah juga wafat. Situasi ini menjadikan Muhammad yatim piatu di usia sangat belia.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Abdul Muthalib merupakan tokoh terpandang di kalangan Quraisy, suku terkuat di Mekkah. Namun, masa bersama kakeknya pun singkat. Dua tahun kemudian, Abdul Muthalib meninggal, dan hak asuh Muhammad berpindah ke pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib dikenal sebagai pelindung utama Muhammad, baik dalam masa kecil maupun saat masa-masa sulit dakwahnya kelak.
Lingkungan sosial dan ekonomi Mekkah pada masa itu kental dengan stratifikasi. Suku Quraisy memegang kekuasaan ekonomi dan spiritual, namun masyarakatnya terbelah dalam beberapa klan. Kehidupan masyarakat Arab pra-Islam diwarnai dengan sistem kekerabatan ketat, perdagangan lintas negeri, dan tradisi jahiliyah, seperti penyembahan berhala. Kondisi ini membentuk latar belakang sosial yang akan sangat berpengaruh pada gagasan-gagasan Muhammad di masa dewasa.
Sejak usia muda, Muhammad dikenal di masyarakat sebagai “Al-Amin”, julukan yang berarti “yang dapat dipercaya”. Ia kerap dipercaya oleh berbagai pihak untuk menjadi penengah dalam sengketa atau menitipkan barang berharga. Reputasi ini tidak datang begitu saja, melainkan dibangun dari pengalaman masa kecil yang keras dan keuletannya dalam menjaga integritas, bahkan di tengah tekanan hidup sebagai yatim piatu.
Pada usia masih belasan tahun, Muhammad telah ikut pamannya, Abu Thalib, berdagang ke berbagai wilayah. Perjalanan dagang ini bukan hanya memberi pengalaman praktis, namun juga memperluas wawasannya tentang budaya, agama, dan sistem sosial di luar Mekkah. Ia menyaksikan perbedaan keyakinan antara Yahudi, Nasrani, dan komunitas penyembah berhala yang mendominasi jazirah Arab.
Salah satu sosok yang sangat memengaruhi hidup Muhammad adalah Khadijah binti Khuwailid. Khadijah adalah seorang saudagar kaya dari Mekkah yang dikenal jujur dan dermawan. Pada usia 25 tahun, Muhammad menikah dengan Khadijah, yang saat itu berusia 40 tahun. Pernikahan ini bukan hanya mempertemukan dua pribadi, tetapi juga membuka jalan bagi kestabilan finansial dan emosional bagi Muhammad. Khadijah menjadi pendukung pertama dan terkuat bagi Muhammad, terutama ketika masa-masa sulit dakwah tiba.
Selain Khadijah, figur pamannya, Abu Thalib, juga sangat menentukan. Abu Thalib, meski tidak pernah memeluk agama yang dibawa Muhammad, tetap setia melindungi keponakannya dari ancaman kaum Quraisy hingga akhir hayatnya. Perlindungan Abu Thalib menjadi benteng utama Muhammad di masa-masa awal dakwah yang penuh tekanan.
Muhammad juga mengalami sejumlah kegagalan dan ujian di masa muda. Salah satu episode berat adalah ketika beberapa anaknya meninggal di usia dini. Ia dan Khadijah dikaruniai sejumlah anak — Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah, Abdullah, dan Ibrahim — namun tidak semuanya hidup hingga dewasa. Qasim dan Abdullah wafat saat masih kecil, meninggalkan duka mendalam bagi Muhammad.
Titik balik dalam kehidupan Muhammad terjadi pada usia 40 tahun. Pada tahun itu, di Gua Hira yang terletak di pinggiran Mekkah, ia menerima wahyu pertama melalui malaikat Jibril. Peristiwa ini menjadi awal dari kenabiannya. Wahyu pertama tersebut menegaskan tugas Muhammad sebagai utusan Allah untuk membimbing umat manusia dari kegelapan menuju cahaya tauhid.
Pada tahap awal, dakwah Muhammad dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hanya segelintir orang yang pertama kali menerima ajarannya, termasuk Khadijah, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar ash-Shiddiq. Selama tiga tahun, dakwah berlangsung terbatas di lingkaran terdekatnya. Namun, setelah menerima perintah untuk berdakwah secara terbuka, tantangan mulai bermunculan. Penolakan, cemooh, hingga penganiayaan datang dari kaum Quraisy, terutama dari mereka yang merasa posisi sosial dan ekonominya terancam oleh ajaran tauhid.
Pada tahun 622 M, tekanan di Mekkah mencapai puncaknya. Muhammad bersama para pengikutnya memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, yang saat itu disebut Yatsrib. Peristiwa hijrah ini tidak hanya menjadi solusi atas penindasan di Mekkah, tetapi juga menandai awal kalender Hijriah yang digunakan umat Muslim hingga hari ini. Di Madinah, Muhammad tidak hanya berperan sebagai nabi, tetapi juga sebagai pemimpin politik, militer, dan sosial. Ia menyusun Piagam Madinah, yang mengatur hak dan kewajiban seluruh penduduk Madinah — baik Muslim, Yahudi, maupun komunitas lain — dalam bingkai bersama.
Setelah menetap di Madinah, serangkaian peristiwa penting mewarnai perjalanan Muhammad. Pada tahun 628 M, ia melakukan upaya diplomasi dengan menandatangani Perjanjian Hudaibiyah bersama kaum Quraisy. Meskipun pada awalnya perjanjian ini dianggap tidak menguntungkan oleh sebagian besar pengikutnya, namun dalam jangka panjang, perjanjian ini membuka peluang damai untuk memperluas dakwah Islam tanpa kekerasan.
Puncak karier Muhammad sebagai pemimpin agama dan politik terjadi pada tahun 630 M, ketika ia bersama 10.000 pasukan Muslim memasuki Mekkah. Kota itu ditaklukkan tanpa pertempuran besar. Muhammad kemudian membersihkan Ka’bah dari berhala dan mengembalikan fungsinya sebagai pusat ibadah tauhid. Beberapa tahun berikutnya diisi dengan upaya konsolidasi, pengiriman utusan dakwah ke luar jazirah Arab, dan peneguhan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan sosial masyarakat.
Namun, jalan hidup Muhammad tidaklah tanpa hambatan dan kegagalan. Penindasan di Mekkah mengakibatkan banyak pengikutnya kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa. Muhammad sendiri pernah mengalami upaya pembunuhan sebelum hijrah. Di Madinah, komunitas Muslim yang baru terbentuk juga menghadapi ancaman militer dari luar maupun perselisihan internal. Peristiwa Perang Uhud, misalnya, merupakan salah satu kekalahan yang menyesakkan bagi umat Muslim di bawah kepemimpinan Muhammad.
Selain itu, setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib — dua pelindung terdekatnya — situasi Muhammad di Mekkah semakin terjepit. Pihak Quraisy melancarkan boikot ekonomi dan sosial, melarang siapa pun berinteraksi dengan keluarga dan pengikut Muhammad. Boikot ini berlangsung selama sekitar tiga tahun dan menyebabkan kondisi memprihatinkan di kalangan Muslim Mekkah.
Meski kerap menghadapi tekanan, Muhammad terus melanjutkan perjuangannya. Setelah hijrah ke Madinah, ia harus menghadapi beberapa perang besar seperti Perang Badar dan Perang Uhud. Di tengah konflik, Muhammad tetap berupaya mencari jalan damai, seperti ketika menandatangani Perjanjian Hudaibiyah. Strategi diplomasi dan keuletannya dalam berdakwah membuahkan hasil bertahap.
Pencapaian puncak Muhammad bukan hanya dalam penaklukan Mekkah. Ia adalah satu-satunya orang yang pernah melaksanakan ibadah haji hanya sekali seumur hidup, yang dikenal sebagai Haji Wada’. Haji Wada’ atau “Haji Perpisahan” ini terjadi pada tahun 632 Masehi, beberapa bulan sebelum wafatnya. Dalam khotbah yang disampaikan saat Haji Wada’, Muhammad menekankan prinsip-prinsip keadilan, persamaan derajat, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia — prinsip yang kemudian menjadi dasar peradaban Islam.
Pada masa akhir hidupnya, Muhammad tinggal di sebuah pondok kecil beratap jerami, dengan dinding yang direkat menggunakan lumpur bercampur kapur. Hunian sederhana ini menjadi bukti kesederhanaannya, meski sudah memimpin komunitas besar yang berpengaruh. Gaya hidupnya sangat jauh dari kemewahan para bangsawan Arab saat itu.
Nama Muhammad menjadi salah satu nama paling populer di dunia. Hingga tahun 2023, lebih dari 133 juta orang di dunia menggunakan nama Muhammad, baik sebagai nama depan maupun bagian dari nama lengkap mereka. Nama ini digunakan oleh berbagai latar belakang kebangsaan dan budaya di lima benua.
Upaya pencurian jasad Muhammad pernah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah, namun semuanya gagal. Pengalaman upaya-upaya ini dipercayai oleh sebagian umat sebagai bukti perlindungan ilahi terhadap jasad nabi terakhir.
Muhammad wafat pada 8 Juni 632 Masehi, tepat pada 11 Hijriah, di Madinah. Setelah wafat, jasadnya dimakamkan di sebelah rumahnya, di lingkungan Masjid Nabawi, yang kini menjadi salah satu tempat suci utama umat Islam di dunia.
Perubahan besar terjadi setelah wafatnya Muhammad. Komunitas Muslim yang semula hanya puluhan orang berkembang menjadi ratusan ribu dalam hitungan dekade. Kepemimpinan umat Islam dilanjutkan oleh para sahabat dekatnya, dengan sistem kekhalifahan. Ide-ide yang dibawa Muhammad, seperti persamaan hak, anti diskriminasi, dan keadilan sosial, diadopsi dan dikembangkan menjadi sistem hukum dan pemerintahan di berbagai wilayah yang kemudian menjadi negara-negara Islam.
Prinsip-prinsip yang disampaikan Muhammad dalam khotbah Haji Wada’ menjadi fondasi dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan perlawanan terhadap perbudakan. Isi khotbah tersebut menegaskan pentingnya menghormati hak-hak sesama manusia, perempuan, dan kaum lemah, serta larangan keras atas segala bentuk penindasan.
Piagam Madinah yang disusun Muhammad menjadi salah satu dokumen tertua di dunia yang mengatur hak dan kewajiban warga negara secara inklusif. Piagam ini memungkinkan berbagai komunitas — Muslim, Yahudi, dan non-Muslim lainnya — hidup berdampingan dengan hak dan kewajiban yang jelas.
Dakwah Muhammad tidak hanya berpengaruh di wilayah Arab. Setelah wafat, para pengikutnya membawa ajaran Islam ke luar jazirah Arab, hingga Persia, Mesir, Afrika Utara, dan wilayah Barat Daya Asia. Dalam beberapa abad, ajaran yang dibawa Muhammad telah mencapai Spanyol di barat dan India di timur.
Muhammad juga dikenal sebagai penutup para nabi. Kutipan yang menyebutnya sebagai nabi dan rasul terakhir yang diutus oleh Allah untuk menuntun umat di dunia, menjadi keyakinan utama bagi lebih dari satu miliar umat Islam di seluruh dunia. Konsep kenabian terakhir ini menjadi ciri khas teologi Islam yang membedakannya dari agama samawi lain.
Dalam kehidupan keluarga, Muhammad dikenal sangat menghormati dan dekat dengan anak-anaknya. Salah satu putrinya, Fatimah, menjadi figur penting dalam sejarah Islam dan menjadi leluhur bagi banyak keturunan Muhammad yang dikenal sebagai sayyid atau syarif.
Pada masa hidupnya, Muhammad juga pernah menghadapi berbagai fitnah dan tuduhan dari kaum Quraisy. Namun, ia selalu mengedepankan sikap sabar, pemaaf, dan mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan-keputusan sulit.
Kedekatannya dengan Khadijah menjadi salah satu pilar utama dalam perjuangan dakwahnya. Khadijah tidak pernah menolak permintaan dan kebutuhan Muhammad, bahkan rela mengorbankan seluruh hartanya demi mendukung perjuangan suaminya. Setelah Khadijah wafat, Muhammad tetap mengenang dan menghormatinya sepanjang hidup, sesuatu yang tidak lazim dalam tradisi patriarki Arab saat itu.
Setelah wafatnya Muhammad, terjadi beberapa kali upaya untuk mencuri jasadnya, namun seluruh upaya tersebut gagal. Lokasi makamnya di Madinah tetap menjadi salah satu tempat paling dijaga dan dihormati di dunia Islam.
Pondok yang menjadi tempat tinggal Muhammad berukuran kecil dan sederhana, beratap jerami, dan dindingnya terbuat dari lumpur yang dicampur kapur. Walaupun ia adalah pemimpin komunitas terbesar di jazirah Arab, ia memilih hidup dalam kesederhanaan tanpa kemewahan material.
Peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M menjadi tonggak penting, tidak hanya sebagai strategi penyelamatan komunitas Muslim, tapi juga sebagai awal berdirinya masyarakat Islam yang berdaulat. Peristiwa inilah yang menjadi patokan awal penanggalan Hijriah dalam kalender Islam.
Pada Haji Wada’, Muhammad menyampaikan pidato yang menegaskan penghapusan sistem perbudakan, pelarangan balas dendam, serta penghormatan terhadap hak perempuan dan hak milik setiap orang. Pesan-pesan ini kemudian diabadikan dalam berbagai literatur dan menjadi pedoman etika sosial umat Islam sepanjang zaman.
Nama Muhammad digunakan oleh lebih dari 133 juta orang hingga tahun 2023, menjadikannya salah satu nama paling banyak dipakai di dunia.