More from this creator
Other episodes by Alien.
More like this
If you liked this, try these.
Transcript
The full episode, in writing.
Satu momen yang mengubah sejarah dunia terjadi di sebuah gua kecil di luar Mekah, pada tahun 610 M. Muhammad bin Abdullah, pada usia 40 tahun, menerima wahyu pertama di Gua Hira. Ini menandai lahirnya peristiwa yang tidak hanya akan mengubah tanah Arab, tapi juga membentuk peradaban dan keyakinan bagi miliaran manusia. Muhammad lahir di Mekah, pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, sekitar tahun 570 M, dalam sebuah masyarakat yang kuat memegang tradisi kabilah dan sistem sosial berbasis keluarga besar. Tahun kelahirannya disebut Tahun Gajah, karena bertepatan dengan peristiwa penyerangan Mekah oleh pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah, gubernur Yaman. Kelahiran ini terjadi di tengah hiruk pikuk kota dagang yang strategis di jalur kafilah perdagangan antara Yaman dan Syam.
Nabi Muhammad berasal dari keluarga terpandang Bani Hasyim, salah satu cabang suku Quraisy, yang dikenal sebagai penjaga Ka'bah. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab. Ayahnya, Abdullah, wafat sebelum Muhammad lahir, sehingga ia tumbuh tanpa sosok ayah sedari awal hidupnya. Ibunya, Aminah binti Wahb, berasal dari keluarga terhormat di Yatsrib, yang kelak dikenal sebagai Madinah. Kehilangan ayah sejak dalam kandungan dan ditinggal ibunda ketika baru berusia enam tahun, Muhammad segera diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Dua tahun kemudian, setelah Abdul Muthalib wafat pada tahun 578 M, pengasuhan Muhammad diteruskan oleh pamannya, Abu Thalib, yang juga menjadi pelindung dan figur ayah baginya selama masa remaja hingga dewasa.
Kehidupan masa kecil Muhammad diwarnai kondisi sosial Arab yang keras, dengan strata sosial berbasis klan, tradisi balas dendam antar suku, dan sistem kepercayaan politeistik. Mekah pada saat itu merupakan sentra perdagangan dan pusat ziarah, memadukan interaksi antar suku sekaligus persaingan ekonomi yang ketat. Sebagai anak yatim piatu, Muhammad tumbuh dalam sederhana, jauh dari kemewahan, tapi tetap mendapatkan kasih sayang dan perlindungan dari keluarga besarnya. Ia juga dikirim ke pedesaan di luar Mekah, mengikuti tradisi Quraisy agar anak-anak mereka tumbuh kuat dan fasih dalam bahasa Arab yang murni. Masa kecil Muhammad juga diwarnai pengalaman menggembala kambing, pekerjaan yang dianggap sederhana, tapi memberi pengalaman langsung tentang hidup mandiri dan mengenal kerasnya alam.
Setelah kakeknya wafat, Abu Thalib menjadi figur penting dalam kehidupan Muhammad. Abu Thalib bukan saja pamannya, tapi juga pelindung utama Muhammad ketika dewasa, terutama saat menghadapi tekanan dari kaum Quraisy. Lingkungan keluarga tempat Muhammad tumbuh didominasi nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, dan solidaritas antar anggota keluarga. Sejak kecil, Muhammad dikenal dengan gelar Al-Amin, yang berarti “yang terpercaya”, karena sikapnya yang jujur dan tidak pernah mengambil hak orang lain walaupun sering diserahi titipan barang.
Muhammad tidak menerima pendidikan formal seperti yang dikenal sekarang. Ia belajar langsung dari pengalaman hidup dan lingkungan sosial di sekitarnya. Mekah sebagai kota dagang memberinya kesempatan untuk melihat beragam karakter dan watak manusia. Ketika ikut pamannya berdagang ke Syam, ia belajar cara berdagang dengan jujur dan memperhatikan etika dalam transaksi. Muhammad juga menyaksikan kekacauan sosial serta ketidakadilan di lingkungan sekitarnya—seperti perlakuan kasar terhadap budak, perempuan, dan orang miskin—sehingga menanamkan kepekaan sosial dalam dirinya. Selain pamannya, Muhammad juga dekat dengan sepupunya, Ali bin Abi Thalib, yang sejak kecil ikut diasuh Muhammad dan kelak menjadi salah satu pengikut awal serta tokoh penting dalam sejarah Islam.
Pada usia sekitar 25 tahun, Muhammad mendapatkan kepercayaan untuk memimpin kafilah dagang milik Khadijah binti Khuwailid, seorang janda kaya di Mekah. Kejujuran dan kepiawaiannya mengelola usaha dagang membuat Khadijah terkesan, hingga akhirnya melamar Muhammad untuk menjadi suaminya. Pernikahan mereka berlangsung pada tahun 595 M. Selisih usia sekitar 15 tahun tidak menghalangi cinta dan keharmonisan rumah tangga mereka. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai beberapa anak: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan Ibrahim. Namun beberapa anak mereka wafat saat masih kecil.
Sepanjang hidupnya sebelum menerima kenabian, Muhammad dikenal sebagai sosok yang menjauhi kebiasaan buruk masyarakat Mekah, seperti berjudi, mabuk, dan menyembah berhala. Ia sering menyendiri, merenung di Gua Hira yang terletak di Gunung Nur. Tempat ini menjadi saksi bisu perenungan Muhammad mengenai kondisi manusia dan berbagai ketidakadilan di sekitarnya. Proses perenungan ini berlangsung bertahun-tahun dan menjadi persiapan batin sebelum menerima tugas kenabian. Ia juga terlibat dalam Perjanjian Hilf al-Fudul, sebuah persekutuan untuk menegakkan keadilan dan melindungi yang lemah dari kezhaliman para penguasa Mekah.
Pada tahun 610 M, di usianya yang ke-40, Muhammad mengalami momen yang sepenuhnya mengubah arah hidupnya. Saat berdiam di Gua Hira, ia menerima wahyu pertama dari Allah yang disampaikan melalui Malaikat Jibril. Wahyu ini berbunyi “Iqra” yang artinya “Bacalah”, memerintahkannya untuk membaca dan menyampaikan risalah Tuhan kepada umat manusia. Peristiwa ini menandai awal kenabian Muhammad dan dimulainya misi besar menyebarkan Islam.
Setelah menerima wahyu, Muhammad mulai mendakwahkan ajaran tauhid secara sembunyi-sembunyi kepada orang-orang terdekatnya. Istri pertamanya, Khadijah, adalah orang yang pertama kali beriman dan mendukungnya sepenuhnya. Diikuti oleh sepupunya, Ali bin Abi Thalib, yang masih belia saat itu, serta sahabat dekatnya, Abu Bakar dan Zaid bin Haritsah. Dakwah awal secara sembunyi-sembunyi ini berlangsung selama tiga tahun, sebelum akhirnya Muhammad diperintahkan untuk berdakwah secara terbuka kepada masyarakat Quraisy.
Respon masyarakat Mekah terhadap dakwah Muhammad tidaklah mudah. Sebagian kecil menerima, namun mayoritas menentang keras dakwah tauhid yang dianggap merusak tatanan sosial dan ekonomi berbasis penyembahan berhala. Penindasan, intimidasi, dan boikot sosial dilakukan oleh kaum Quraisy kepada Muhammad dan para pengikutnya. Setiap langkah dakwah penuh risiko. Keluarga Bani Hasyim, termasuk Abu Thalib, menjadi pelindung utama Muhammad dari ancaman pembunuhan dan penganiayaan. Meski demikian, tekanan sosial dan boikot ekonomi selama tiga tahun di Syi'b Bani Hasyim membuat kehidupan mereka sangat terjepit.
Tahun-tahun berikutnya, Muhammad dan kaum Muslimin mengalami ujian berat. Pada tahun 619 M, dua pelindung besar Muhammad wafat: Khadijah dan Abu Thalib. Tahun ini dikenang sebagai 'Aam al-Huzn atau Tahun Kesedihan, karena beban psikologis dan tekanan bertubi-tubi. Sepeninggal Abu Thalib, Muhammad semakin rentan terhadap ancaman Quraisy hingga akhirnya memutuskan mencari perlindungan dan tempat baru untuk berdakwah. Penolakan dan kekerasan di Thaif menjadi salah satu pengalaman pahit dalam dakwahnya.
Titik balik penting terjadi pada tahun 622 M. Muhammad menerima undangan dari masyarakat Yatsrib, yang meminta beliau memimpin dan mendamaikan kota mereka yang terpecah belah. Peristiwa hijrah dari Mekah ke Yatsrib—yang kemudian dikenal sebagai Madinah—menjadi awal babak baru perkembangan Islam. Hijrah ini terjadi pada 1 Hijriah, yang menjadi penanda dimulainya kalender Hijriah dalam Islam. Hijrah juga memperkuat posisi Muslimin sebagai komunitas terorganisir yang tidak lagi dipandang sebagai sekte kecil terasing.
Setibanya di Madinah, Muhammad membangun fondasi masyarakat baru berbasis persaudaraan antara kaum Muhajirin (pendatang dari Mekah) dan Anshar (penduduk Madinah). Ia memprakarsai Piagam Madinah, sebuah konstitusi tertulis yang mengatur hak dan kewajiban seluruh penduduk kota, termasuk umat Yahudi dan kelompok minoritas lain. Dalam komunitas baru ini, Ali bin Abi Thalib memainkan peran penting sebagai anggota keluarga dekat dan penasehat utama Rasulullah. Muhammad juga membangun masjid, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemerintahan, pendidikan, dan sosial masyarakat Madinah.
Pergolakan antara Muslimin dan Quraisy Mekah belum usai. Pada tahun 624 M, terjadi Perang Badar, pertempuran besar pertama antara kaum Muslimin Madinah melawan pasukan Quraisy Mekah. Pasukan Muslim yang hanya berjumlah sekitar 313 orang berhasil mengalahkan sekitar 1000 pasukan Quraisy. Kemenangan ini meningkatkan moral kaum Muslimin dan membuat nama Muhammad semakin diperhitungkan di jazirah Arab.
Setahun kemudian, tahun 625 M, Perang Uhud terjadi. Kali ini, pasukan Muslim mengalami kekalahan setelah sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka karena tergoda harta rampasan perang. Akibatnya, pasukan Quraisy berhasil memukul mundur pasukan Muslim dan melukai Muhammad secara fisik. Peristiwa ini menjadi ujian mental besar bagi beliau dan para pengikutnya. Namun kekalahan di Uhud justru memperkuat disiplin dan semangat persaudaraan di kalangan Muslimin.
Pada tahun 627 M, pasukan sekutu Quraisy dan beberapa suku Arab bersekutu menyerang Madinah dalam Perang Khandaq, juga dikenal sebagai Perang Parit. Muhammad, atas usul Salman al-Farisi, mengadopsi strategi parit yang belum pernah diterapkan sebelumnya di jazirah Arab. Parit sepanjang sekitar 5 km digali di pinggiran Madinah, sehingga pasukan musuh tidak bisa menembus pertahanan kota. Strategi ini berhasil membuat pasukan sekutu mundur, menandai kemenangan strategis tanpa pertempuran frontal yang merugikan pihak Muslim.
Tahun berikutnya, 628 M, menjadi tahun penanda diplomasi penting dalam sejarah dakwah Muhammad. Ia dan sekitar 1.400 pengikutnya berangkat ke Mekah dengan niat menunaikan ibadah umrah, namun dihadang oleh Quraisy di Hudaibiyah. Setelah negosiasi alot, kedua pihak sepakat menandatangani Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian ini, meski secara sepintas terasa merugikan pihak Muslim karena menunda kunjungan ke Mekah, justru membuka peluang dakwah lebih luas dan menurunkan tensi konflik. Dalam periode damai setelah perjanjian ini, jumlah pengikut Islam bertambah pesat, melebihi jumlah selama 18 tahun dakwah sebelumnya.
Dalam setiap konflik dan peristiwa penting, Ali bin Abi Thalib kerap menjadi panglima di garis depan dan penulis berbagai dokumen penting, termasuk Perjanjian Hudaibiyah. Peran Ali sebagai keluarga dekat dan pelindung Rasulullah semakin menonjol, baik dalam hal strategi militer maupun penyebaran ajaran Islam di kalangan pemuda.
Pada tahun 630 M, momen monumental terjadi: penaklukan Mekah oleh Muhammad dan para pengikutnya. Penaklukan ini berlangsung hampir tanpa pertumpahan darah. Muhammad masuk ke Mekah dengan membawa panji perdamaian, memberikan pengampunan kepada musuh-musuh lamanya, dan menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka'bah. Tindakan ini menandai kemenangan besar bagi Islam di jazirah Arab dan mengubah Mekah menjadi pusat keimanan monoteistik, meninggalkan tradisi berhala yang telah mengakar selama berabad-abad.
Pada tahun 632 M, Muhammad melaksanakan ibadah haji satu-satunya dalam hidupnya, dikenal sebagai Haji Wada’ atau Haji Perpisahan. Pada saat itulah beliau menyampaikan khutbah penting di Padang Arafah, menegaskan prinsip-prinsip keadilan, persamaan, dan persaudaraan antar umat manusia. Haji ini juga menjadi penanda bahwa misi kenabian Muhammad telah mendekati akhir. Beberapa bulan kemudian, pada 8 Juni 632 M (11 H), Muhammad wafat di Madinah pada usia 61–62 tahun, meninggalkan umat yang telah bersatu dan ajaran yang tersebar luas.
Kehidupan Muhammad dikenal sangat sederhana. Ia tinggal di sebuah pondok kecil beratap jerami, direkat dengan lumpur bercampur kapur. Meski mengemban posisi sebagai pemimpin politik dan agama, Muhammad tetap hidup seperti rakyat biasa. Sumber menyebut bahwa Nabi Muhammad hanya melaksanakan ibadah haji sekali, yaitu pada Haji Wada' tahun 632 M. Sampai tahun 2023, nama “Muhammad” menjadi salah satu nama paling populer di dunia, dipakai lebih dari 133 juta orang.
Terdapat beberapa upaya pencurian jasad Muhammad setelah wafat, namun seluruhnya gagal karena perlindungan yang diyakini berasal dari Allah. Ini menambah sisi misteri dan penghormatan yang besar terhadap makam beliau di Madinah.
Salah satu kutipan penting yang sering diulang: Muhammad diakui sebagai nabi dan rasul terakhir yang diutus Allah untuk menuntun umat di dunia.
Piagam Madinah yang dibuat Muhammad menjadi salah satu dokumen politik pertama di dunia yang mengatur hak dan kewajiban warga kota lintas agama dan suku. Setelah penaklukan Mekah, hampir seluruh jazirah Arab bergabung dalam kepemimpinan Muhammad, mengakhiri era perang saudara antar suku dan membangun fondasi persatuan yang kuat.
Fatimah, putri Muhammad, menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan ini, lahirlah Hasan dan Husain, dua nama yang kelak sangat dihormati dalam sejarah Islam. Hubungan keluarga ini memperkuat jejak genetik dan spiritual Muhammad ke generasi-generasi berikutnya.
Nama “Muhammad” telah digunakan secara luas di berbagai belahan dunia, dan hingga kini, tetap menjadi simbol keteladanan, integritas, serta harapan bagi jutaan keluarga di semua benua.