More from this creator
Other episodes by Alien.
More like this
If you liked this, try these.
Transcript
The full episode, in writing.
Pada suatu malam di awal abad ke-7, Muhammad bin Abdullah duduk sendirian di Gua Hira, tiga mil dari luar kota Mekah. Ini adalah tahun 610 Masehi. Di tengah gelap dan sunyi, beliau menerima wahyu pertamanya—sebuah peristiwa yang tidak hanya mengubah jalannya hidupnya, tapi juga sejarah dunia. Muhammad dilahirkan di Mekah pada tanggal 12 Rabiul Awal, Tahun Gajah, sekitar tahun 570 Masehi, di tengah masyarakat Arab yang penuh dengan konflik suku, sistem kekerabatan yang ketat, dan ekonomi yang berpusat pada perdagangan serta ziarah ke Ka'bah.
Muhammad tumbuh dalam keluarga Bani Hasyim, salah satu klan terhormat dalam suku Quraisy. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat sebelum Muhammad lahir. Ibunya, Aminah binti Wahb, juga meninggal saat Muhammad baru berusia enam tahun. Setelah menjadi yatim piatu, ia diasuh terlebih dahulu oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dan ketika sang kakek wafat dua tahun kemudian, pengasuhan Muhammad dilanjutkan oleh pamannya, Abu Thalib.
Masa kanak-kanak Muhammad berlangsung di lingkungan yang keras. Mekah pada waktu itu adalah pusat perdagangan dan ziarah, namun juga dikelilingi gurun berbatu yang gersang. Pengasuhan secara berjenjang, dari ibu ke kakek, lalu paman, menjadikan Muhammad tumbuh dengan rasa kehilangan dan kemandirian sejak kecil. Rumah Abu Thalib sendiri bukanlah rumah yang kaya, sehingga Muhammad tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, terbiasa membantu paman menggembala kambing untuk menambah penghasilan keluarga.
Di usia muda, Muhammad dikenal di kalangan Mekah dengan julukan "Al-Amin" yang berarti "yang terpercaya". Julukan ini muncul karena integritas dan kejujurannya dalam berdagang serta dalam berbagai urusan masyarakat. Ia sering dimintai tolong untuk menjadi penengah dalam perselisihan dan dipercaya memegang barang titipan. Pada usia 25 tahun, Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang janda kaya yang usianya 15 tahun lebih tua darinya. Pernikahan ini berlangsung selama 25 tahun dan menjadi fondasi dukungan emosional serta ekonomi bagi Muhammad. Dari pernikahan ini, Muhammad mempunyai enam anak: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah.
Sebelum kenabian, Muhammad sering merenung dan menyendiri, terutama di Gua Hira. Tradisi bertafakur ini salah satunya terinspirasi oleh kondisi sosial Mekah yang sarat ketidakadilan: praktik perbudakan, penindasan terhadap fakir miskin, dan kekuasaan kaum elit Quraisy. Ketidakpuasan terhadap nilai-nilai jahiliah inilah yang perlahan membentuk kepekaan sosial dan spiritual Muhammad.
Khadijah berperan sangat besar dalam fase pencarian ini. Ia tidak hanya menjadi sumber penghiburan, tetapi juga menjadi orang pertama yang membenarkan kerasulan Muhammad ketika wahyu pertama turun. Selain Khadijah, pamannya, Abu Thalib, juga menjadi pelindung utama Muhammad selama masa awal dakwah, meskipun Abu Thalib sendiri tidak memeluk Islam.
Pada usia 40 tahun, tepatnya sekitar tahun 610 M, Muhammad menerima wahyu pertama di Gua Hira. Peristiwa ini menandai dimulainya fase kenabian. Awalnya, dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun. Orang-orang pertama yang menerima ajarannya adalah Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abu Bakar al-Shiddiq. Setelah itu, Muhammad mulai berdakwah secara terbuka dan menghadapi perlawanan keras dari kaum Quraisy.
Penolakan dan penganiayaan dari masyarakat Quraisy menyebabkan berbagai penderitaan. Salah satu peristiwa penting adalah ketika Muhammad pergi ke Ta'if untuk menawarkan ajaran Islam, namun bukan diterima, ia justru diusir dan dilempari batu oleh penduduk setempat. Setelah kembalinya dari Ta'if, Muhammad mengalami peristiwa Isra Mi'raj, yang dalam tradisi Islam diyakini sebagai perjalanan malam dari Mekah ke Yerusalem dan naik ke langit, membawa pesan penting tentang shalat bagi umat Islam.
Perlawanan Quraisy terhadap Muhammad dan pengikutnya semakin keras, hingga akhirnya Muhammad dan kaum Muslimin hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Peristiwa hijrah ini menjadi titik balik sejarah Islam dan menandai awal kalender Hijriah. Di Madinah, Muhammad bukan hanya menjadi pemimpin agama, tetapi juga kepala pemerintahan dan negarawan yang harus mengatur hubungan antar suku, baik Muslim maupun Yahudi.
Periode Madinah diwarnai dengan berbagai ujian, termasuk sejumlah peperangan besar. Perang Badar pada tahun 624 M menjadi kemenangan penting bagi kaum Muslimin, meski jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding pasukan Quraisy. Namun, kemenangan ini tidak selalu berulang dengan mudah. Pada tahun 625 M, terjadi Perang Uhud, di mana pasukan Muslim mengalami kekalahan. Kesalahan taktis berupa pelanggaran perintah Rasulullah oleh sebagian pasukan pemanah di bukit menyebabkan pasukan Quraisy berhasil melakukan serangan balik. Setelah kekalahan ini, banyak sahabat Muhammad yang gugur, dan beliau sendiri mengalami luka cukup serius.
Setelah beberapa tahun di Madinah, Muhammad dan pasukannya harus menghadapi Perang Khandaq (Parit) tahun 627 M, di mana mereka bertahan dari kepungan pasukan sekutu Quraisy dan sekutunya dengan strategi menggali parit di sekitar Madinah. Setelah itu, pada 628 M, Muhammad menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan Quraisy, sebuah perjanjian damai yang akhirnya membuka jalan bagi penaklukan Mekah.
Pada tahun 630 M, Muhammad dan pasukannya memasuki Mekah tanpa pertumpahan darah yang berarti. Peristiwa ini menjadi puncak kemenangan Islam di Semenanjung Arab. Setelah penaklukan Mekah, banyak suku Arab mulai masuk Islam secara sukarela.
Muhammad mencapai puncak pengaruh pada tahun-tahun terakhir hidupnya. Pada tahun 632 M, beliau menunaikan Haji Wada’, haji perpisahan yang juga menjadi momen penyampaian pesan terakhir kepada umat Islam. Tak lama setelah itu, Muhammad wafat di Madinah pada usia 61–62 tahun, tepatnya tanggal 8 Juni 632 M.
Dalam perjalanan hidupnya, Muhammad menghadapi banyak kegagalan dan penderitaan. Salah satunya adalah kematian hampir semua anak laki-lakinya pada usia dini, yakni Qasim, Abdullah, dan Ibrahim. Hanya Fatimah yang hidup lebih lama dari ayahnya, sementara putra-putrinya yang lain wafat dalam usia muda. Kehilangan ini memberi dampak yang mendalam pada kehidupan pribadi Muhammad.
Penolakan keras dari penduduk Mekah, boikot ekonomi, dan penganiayaan terhadap para pengikutnya juga menjadi ujian berat. Di masa-masa sulit, Muhammad menunjukkan keteguhan dan kesabaran. Ia tetap melanjutkan dakwah meski popularitasnya merosot dan pengikutnya terancam keselamatannya. Strategi bertahan, hijrah ke Madinah, serta menjalin aliansi dengan suku-suku lokal menjadi langkah-langkah krusial dalam menghadapi tekanan eksternal.
Kehidupan rumah tangga Muhammad dikenal sangat sederhana. Ia melakukan pekerjaannya sendiri, seperti menjahit pakaian dan memperbaiki sandal, meski statusnya sebagai pemimpin umat. Sifat rendah hati ini tercatat dalam berbagai riwayat dan diingat oleh para sahabat dan keluarganya.
Salah satu keberhasilan terbesar Muhammad adalah kemampuannya membangun komunitas yang solid di Madinah. Ia menyusun Piagam Madinah, salah satu konstitusi tertulis paling awal di dunia, yang mengatur hubungan antara berbagai suku dan agama di kota itu, termasuk kaum Yahudi dan suku Arab non-Muslim.
Hubungan Muhammad dengan tokoh penting lain juga berperan dalam perkembangan Islam. Utsman bin Affan, misalnya, adalah salah satu sahabat dekat dan menantu Muhammad. Utsman masuk Islam pada masa awal dakwah melalui perantara Abu Bakar, dan kemudian menikahi dua putri Muhammad secara berturut-turut: Ruqayyah, lalu Ummu Kultsum setelah Ruqayyah wafat. Hubungan kekeluargaan ini memperkuat peran Utsman dalam komunitas Muslim, dan ia menjadi salah satu penulis wahyu serta penyokong finansial penting dalam berbagai ekspedisi dakwah.
Ketika Muhammad wafat pada tahun 632 M di Madinah, komunitas Muslim telah tumbuh pesat. Dalam waktu kurang dari 23 tahun sejak menerima wahyu pertama, Islam menyebar ke seluruh Jazirah Arab. Pengaruh Muhammad tidak hanya sebatas agama, tapi juga dalam bidang sosial, hukum, dan pemerintahan. Ia berhasil mengubah masyarakat Arab yang sebelumnya terpecah-belah menjadi satu entitas politik dan religius yang solid.
Peninggalan Muhammad yang paling nyata adalah Al-Qur’an, yang diyakini umat Muslim sebagai wahyu Allah terakhir, dan ajaran-ajarannya yang dibukukan dalam hadis-hadis. Ia disebut dalam banyak sumber sebagai nabi dan rasul terakhir yang diutus untuk menuntun umat manusia. Kode etik sosial dan moral yang diperkenalkan Muhammad mampu menata ulang struktur masyarakat Arab dan memberi dasar bagi perkembangan masyarakat Islam di masa-masa berikutnya.
Setelah wafatnya, kekuasaan Islam berkembang di bawah kepemimpinan para sahabat, termasuk Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Dalam masa kepemimpinan mereka, wilayah Islam meluas hingga ke luar Semenanjung Arab, menjangkau wilayah Persia, Bizantium, dan Afrika Utara.
Salah satu fakta menarik yang jarang diketahui adalah masa remaja Muhammad yang penuh kejujuran, sehingga ia dipercaya masyarakat Mekah bahkan sebelum kenabiannya. Pada sebuah peristiwa, Muhammad pernah dipercaya untuk menyelesaikan sengketa peletakan Hajar Aswad di Ka’bah. Ketika empat klan Quraisy berselisih soal siapa yang berhak mengangkat batu suci itu, mereka sepakat menunjuk Muhammad sebagai penengah. Ia pun mengusulkan agar batu itu diletakkan di atas sehelai kain dan diangkat bersama-sama oleh perwakilan tiap klan, sementara Muhammad sendiri yang meletakkannya ke tempat semula. Solusi bijak ini mencegah pertumpahan darah dan semakin meneguhkan reputasinya sebagai "Al-Amin".
Dalam kehidupan sehari-hari, Muhammad dikenal sangat sederhana. Ia tidak segan membantu pekerjaan rumah, seperti membersihkan rumah, menambal pakaian, dan memerah susu kambing sendiri. Kebiasaannya ini menjadi teladan bagi para sahabat dan umatnya.
Pada masa akhir hidupnya, Muhammad menunaikan Haji Wada' bersama puluhan ribu pengikut dari berbagai pelosok Semenanjung Arab. Dalam khutbah perpisahannya, ia menekankan pentingnya persatuan, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, seperti larangan menumpahkan darah dan mengambil hak orang lain secara tidak adil.
Muhammad juga dikenal sangat menghargai perempuan dan hak-hak mereka. Ia menghapuskan tradisi penguburan bayi perempuan hidup-hidup yang lazim di masyarakat Arab waktu itu, serta memberikan hak waris dan hak memiliki properti kepada perempuan—hal yang sangat progresif untuk zamannya.
Di bidang militer dan strategi, Muhammad dikenal piawai menyusun strategi dalam pertempuran. Saat Perang Khandaq, ia menerima saran Salman al-Farisi untuk menggali parit sebagai perlindungan, sebuah taktik yang belum pernah digunakan sebelumnya di jazirah Arab.
Anak-anak Muhammad juga memberikan warna tersendiri dalam sejarah Islam. Fatimah, putri bungsunya, menikah dengan Ali bin Abi Thalib dan dari keturunan merekalah lahir Hasan dan Husain. Hasan dan Husain kelak menjadi tokoh sentral dalam sejarah Islam, khususnya dalam tradisi Ahlul Bait.
Setelah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 628 M, terjadi peningkatan pesat jumlah orang yang masuk Islam. Dalam dua tahun setelah perjanjian itu, jumlah Muslimin bertambah drastis, dan pengaruh Islam menembus batas-batas tradisi suku.
Muhammad wafat pada usia sekitar 61–62 tahun setelah menunaikan Haji Wada' dan menyampaikan khutbah terakhirnya. Sebelum wafat, beliau dikabarkan mengalami sakit selama beberapa hari. Wafatnya Muhammad di Madinah pada 8 Juni 632 M menandai berakhirnya era kenabian dalam tradisi Islam.
Peninggalan Muhammad yang paling nyata adalah perubahan total masyarakat Arab dari sistem kekerabatan suku yang terpecah-pecah menjadi satu komunitas yang diikat oleh iman dan hukum bersama. Mekanisme perubahan ini terjadi melalui pengaturan ulang sistem sosial, hukum, dan pemerintahan, serta penghapusan praktik-praktik jahiliah yang merendahkan martabat manusia.
Nama lengkap Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab membentang tujuh generasi ke atas, menandakan betapa pentingnya nasab dan kekerabatan dalam struktur sosial Arab pada masa itu.
Penaklukan Mekah tanpa pertumpahan darah pada tahun 630 M merupakan salah satu puncak kepemimpinan Muhammad, di mana beliau memberikan amnesti umum kepada penduduk Mekah yang sebelumnya memusuhinya. Langkah ini menghapus dendam berkepanjangan dan membuka jalan bagi penyatuan Arab di bawah panji Islam.
Salah satu sahabat dekat Muhammad, Utsman bin Affan, menjadi tokoh sentral dalam pengumpulan dan penulisan mushaf Al-Qur’an setelah wafatnya Muhammad. Ia merupakan menantu Muhammad yang menikahi dua putrinya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Muhammad pernah mengalami kegagalan diplomasi ketika berupaya berdakwah di Ta’if. Ia tidak hanya ditolak, melainkan juga mendapatkan perlakuan kasar dan diusir dengan lemparan batu oleh penduduk setempat.
Dalam masa-masa sulit di Mekah, Muhammad dan para pengikutnya pernah mengalami boikot ekonomi dan sosial oleh Quraisy selama tiga tahun di Syi’ib Abu Thalib, menyebabkan penderitaan berat, kelaparan, dan kematian beberapa anggota keluarga serta pengikutnya.
Setelah hijrah ke Madinah, Muhammad menyusun Piagam Madinah yang mengatur hak dan kewajiban seluruh penduduk kota, baik Muslim maupun non-Muslim, menjadikannya salah satu contoh awal konstitusi multikultural dalam sejarah manusia.
Perempuan pertama yang beriman kepada Muhammad adalah Khadijah binti Khuwailid, dan rumah tangga mereka berlangsung harmonis selama seperempat abad, hingga Khadijah wafat.
Setelah penaklukan Mekah, Ka'bah dibersihkan dari berhala-berhala dan dijadikan kembali sebagai tempat ibadah tauhid. Tindakan ini mengubah Ka'bah menjadi pusat spiritual umat Islam hingga kini.
Qasim dan Abdullah, dua putra Muhammad dari Khadijah, wafat saat masih kecil, sementara Ibrahim, anak Muhammad dari Maria al-Qibtiyah, juga meninggal dalam usia balita.
Perang Uhud pada tahun 625 M adalah satu-satunya pertempuran besar di mana pasukan Muslim mengalami kekalahan signifikan, dan Muhammad sendiri terluka cukup serius akibat serangan musuh yang membalik keadaan setelah pasukan pemanah Muslim meninggalkan pos mereka.
Pada masa Muhammad, Mekah adalah kota dagang penting di jalur kafilah antara Yaman dan Syam, dengan Ka'bah sebagai pusat ziarah tahunan berbagai suku Arab.
Pada khutbah perpisahan di Arafah, Muhammad menegaskan kembali bahwa seluruh manusia setara tanpa membedakan suku, warna kulit, atau status sosial, sebuah pesan yang sangat revolusioner pada zamannya.